Saturday, 7 January 2012

Selamat Jalan Eyang Uti..

Sekitar jam 11 malam, mama membangunkanku dari tidurku. Wajahnya sangat panik, ia menanyakan dimana hp milikku. Setelah kutunjukan dimana hpku, aku kembali tidur lagi. Saat aku tidur, aku melihat sebuah cahaya putih terang yang menyilaukan mataku dan membuatku terbangun dari tidur.

Ketika kubangun dari tidurku, ada suara kepanikan dari mamaku. Aku pun segera keluar untuk mengeceknya. Tiba-tiba hp berdering. Bundaku (Tante Rimay) mengabarkan berita duka, berita yang sebenarnya semua orang tidak inginkan.

Innalillahi wa innalillahi rojiun, sekitar jam setengah 12 malam hari Kamis 4 Januari 2012, Eyang uti Rajiyem telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang.

Aku kaget shock dan tidak percaya. Aku terus bergumam 'Ya allah semoga ini hanya mimpi..'. Namun Allah lebih sayang dengan eyangku, Allah tidak ingin melihat beliau terus-terusan sakit.

Liburan natal dan tahun baru kemarin adalah liburan terakhir dengan eyang uti. Entah kenapa, saat liburan kemarin, aku merasakan ada hal yang aneh sama eyang. Beliau yang biasanya sedikit 'cerewet' dengan cucunya saat itu menjadi lebih diam.

Saat tanggal 1 januari, eyang uti bilang "jagain dedek rehan (sepupuku anaknya bunda Rimay) dia seneng banget sama mamas koko (adek aku yang paling kecil) dia juga seneng kalo lagi sama keluarga kamu". Entah kenapa gue saat itu gak bisa ngomong apa-apa cuma bisa jawab "iya yang".

Terus yang biasanya liburan gue photoholic (sorry gue gak mau nyebut diri gue 'narsis' gak elit soalnya) sama orang-orang/sodara gue, saat liburan itu gue malah photoholic sama diri gue sendiri.

Saat tanggal 3 Januari, sekitar jam 4 sore gue otw sama keluarga gue kerumah eyang. Saat dirumah eyang, eyang uti gak masak. Eyang uti ini bisa dibilang 'Hobi masak'. Walaupun kadang masakannya selalu agak asin dan membuatku alergi, tapi aku selalu merindukan masakan beliau.

Ketika itu, eyang kakung minta dipijet sama ayah. Karena aku ngantuk sekitar jam setengah sembilan, aku tidur dikamar bunda. Saat aku sedang ingin tidur, eyang uti masuk kekamar. Eyang bilang "kak, kok eyang abis pulang dari jawa bawaannya ngantuk terus, pingin tidur terus", gue bilang "mungkin eyang kebanyakan tidur kali dijalan, jadinya kebawa ngantuk terus hahahahaha". Saat itu gue sempet ketawa bareng eyang. Eyang tidur diatas, gue tidur dibawah.

Saat pulang dari rumah eyang, gue gak sempet pamit sama eyang uti. Gue cuma pamit sama eyang kakung. Itu yang buat gue nyesel sampe saat ini.

Ketika gue tau eyang uti udah meninggal, diperjalanan kerumah eyang gue terus berdoa dan memohon kepada allah supaya eyang hidup lagi. Sampai dirumah sakit, ketika melihat wajah eyang.. Ia seperti sedang tidur. Wajah damainya membuatku tenang, namun air mataku tak dapat ku bendung. Ketika aku memandikan jenazah eyang uti, aku tak kuasa menahan tangis dan aku segera keluar dari ruang pemandian.

Eyang uti.. Wajahmu yang ceria selalu menyemangati kami, Senyummu yang manis selalu menyempurnakannya. Dibalik wajahmu yang ceria kau menyimpan segala keluh kesah yang kau rasakan.

Sakit untuk mengetahui kau telah tiada. Sedih mengetahui kau telah pergi. Mungkin ini memang jalan terbaik untukmu.

Kau adalah eyang uti yang paling dekat denganku, bukan hanya denganku tapi dengan semua cucumu, anak-anakmu, dan semua orang yang mengenalmu.

Maafkan aku yang belum bisa mengiyakan apa yang kau inginkan. Aku akan terus berusaha agar apa yang kau inginkan dariku dapat ku gapai.

Aku sangat bangga memiliki eyang seperti dirimu. Tenanglah disana, aku dan yang lainnya selalu mendoakanmu.

I love you eyang uti :*

-Aulia Dyah Kartika-

saat kau menutup mata dan terbaring dalam lelapmu

aku tulis surat ini untukmu, dengan sejuta cinta dari setiap kepak sayap malaikat, kumpulan keping-keping kasih sayang, indah seperti karangan bunga yang saat ini telah memenuhi halaman rumahmu.

wanita dengan senyum paling indah yang pernah aku lihat dalam bingkai kesederhanaan, paras yang selalu menggambarkan keceriaan dibalik wajah kesabaran dan ketabahan. kadang kau kesal karena kenakalan cucu-cucumu, tapi itu tidak pernah mengurangi kasih sayang yang selalu tulus kau berikan. engkau adalah sebuah sosok kekuatan dan ketangguhan seorang wanita, namun tidak mengalahkan kecantikan dan kelembutan yang engkau miliki. sosok yang selalu ceria, selalu penuh semangat, tidak pernah merasa lelah menghidupkan semua yang ada di sekitarmu.
wanita.. engkau adalah seorang guru, figur yang ku gugu dan ku tiru. kau mengajarkan banyak hal anak cucumu juga anak didikmu

kita pernah melukis mimpi, kau mendoakanku agar aku dapat mencapai semua cita-citaku. dan aku berada dalam perjalanan mewujudkan itu, tapi kau lebih dulu pergi tanpa melihat bagaimana aku ingin sekali menjadi kebanggaanmu. sebesar apapun rasa sayangku, ada yang lebih sayang kepadamu, dan kepada-Nya engkau akhirnya kembali. telah kau lakukan yang terbaik, kau wariskan cinta dan kasih sayang kepada anak cucumu, dan kini kau tenang dalam peristirahatan terakhirmu.

selamat jalan eyang.. damai dan bahagia di tempat terindah, disisi Allah SWT. tidak akan putus doa kami anak cucumu, dan semua yang mencintaimu...




Jakarta, 5 januari 2012
By : Nurisnani Putri Mandarini